Minang Berduka, Kerusuhan wamena karena tiadanya kepercayaan kepada pemimpin

September 29, 2019



Kerusuhan Wamena membuat luka lama berdarah lagi. Saya ingat kejadian memilukan ini, pada tahun 2000 pesantren tempat saya bernaung menampung begitu banyak anak-anak korban tragedi sambas yang mana mereka kehilangan orang tua mereka, tidak terbayang oleh saya gelagat dan raut duka mereka karena saya pun masih sangat belia namun ada satu hal yang saya ingat, salah satu dari mereka meninggal dunia dipesantren karena jantung koroner. Entahlah, saya tak habis fikir kenapa dia bisa sakit jantung, yang saya dia sang almarhum merupakan anak yang selalu terlihat ketakutan.

Oke,  kembali ke pembahasan. Jika tragedi Sampit dan Tragedi Sambas dipicu oleh perselisihan etnis yang bermula dari hal-hal kecil yang melibatkan masing-masing suku yang bertikai hingga menjadi tragedi yang sangat memilukan dan mencekam, pada kerusuhan Wamena, hal itu tidak terjadi, tidak ada pertikaian etnis seperti dua kejadian sebelumnya. Melainkan semua bermula dari sebuah issue rasis yang kemudian beritanya menjadi simpang siur karena Kapolda Papua membantah isu itu menjadi pencetus kerusuhan namun Kapolri justru berpendapat berbeda. So, Who Knows?!

Kerusuhan Wamena telah memakan korban  32 orang yang dibantai secara kejam, dan 10 orang dari korban tersebut merupakan warga sumatera barat, saya hanya termangu membaca berita bahwa ada balita yang menjadi korban, berusia 3 tahun meninggal karena kepalanya dikampak. Innalillahi waiina ilaihi rojiun, airmata saya bergulir perlahan, menyaksikan wajah ceria anak saya yang sekirany seumuran dengan balita yang menjadi korban di Wamena tersebut, anak sekecil itu apa yang mereka ketahui kala orang-orang sadis menghampirinya dan menghantam kepala mungilnya dengan kampak?!. Entahlah, I not Believe!

Hanya saja darah saya mendidih karena sang balita itu sekampung dengan saya, ya saya juga berasal dari pesisir selatan dari garis ibu. Rasanya ingin mengumpat marah, namun itu tidak akan mengembalikan mereka yang menjadi korban selain melafalkan doa-serta menggerutu dalam kepda pihak yang berwenang. "Kenapa, kalian bilang mereka pendatang ditanah papua?! Bukankah Papua NKRI sebagaimana yang kalian ucapkan. Lantas kenapa harus ada kejadian pembantaian ini sementara kita bersaudara?!

Yang jelas, ketika pemimpin tidak peduli dengan hal-hal kecil yang ada di masyarakatnya, pemimpin akan kehilangan kepercayaan kepada pemangku amanat negara, mereka tidak akan mengindahkan pemimpin yang dianggap tidak berpihak, maka kehancuranlah yang menanti, balada akan datang bak air bah menghantam dan menerjang. 

Dan satu hal yang perlu kita ingat ;

"Semua orang harus berarti atau tak ada yang berarti, karena kalau tidak orang-orang akan kehilangan kepercayaan, saat itulah hadir orang yang main hakim sendiri dan kekacauan akan bermula disini!"



You Might Also Like

0 Comments

Like us on Facebook