Banjir Bandang melanda Kampung penghasil emas

December 02, 2019



Banjir bandang yang melanda pada hari minggu tanggal 24  November 2019 di Jorong Sapan Salak dan Manggih Nagari Pakan Rabaa Timur Kecamatan Koto Parik Gadang diateh Solok Selatan masih menyisakan duka dan trauma, karena sebanyak 25 rumah rusak parah serta 3 buah rumah hanyut tak bersisa, meski tidak menelan korban jiwa namun kerusakan yang diakibatkan banjir bandang tersebut juga telah membuat masyarakat gagal panen. Padi yang telah siap panen itu tersapu lumpur. Sebanyak 430 orang masyarakat telah mengungsi ke tempat yang aman. Banjir bandang dikampung penghasil emas itu telah menyisakan cerita.

Sebagai putri daerah yang lahir dan tumbuh besar di kampung yang indah tersebut saya merasakan kesedihan yang teramat. Pada tahun 1997 saya meninggalkan tanah kelahiran saya demi menuntut ilmu keibukota, ya ke jakarta. Saat itu usia saya baru menginjak 13 tahun. Namun karena saya ingin anak kampung seperti saya harus maju demi kampung saya yang terisolir. Akhirnya kami berangkat ke jakarta dengan uda dan adik saya, kami masuk pesantren Asshiddiqiyah. Anak-anak pertama dari kampung yang ke ibukota untuk belajar.

Pakan Rabaa Timur dahulu merupakan sebuah daerah terisolir, terpencil dan terpelosok yang belum menikmati terangnya listrik serta mulusnya aspal, jika ingin keluar dari daerah harus berjalan kaki sejauh 6 km. Saya ingat : Waktu saya mengikuti ujian akhir yang saat itu disebut EBTANAS saya harus keluar kampung untuk mengikuti ujian yaitu ke SD inti di Sungai Kalu dengan diantar pakai sepeda ontel oleh bapak saya pergi ujian, pada saat ujian teman lelaki saya iseng menaruh es dipunggung saya dan saya mengejarnya hingga keluar gerbang sekolah dan tepatlah saat itu bus luar kota Usaha Murni melintas sehingga rem pun berdecit keras dan semua orang tersentak kaget. Sopir bus dan orang-orang marah termasuk para guru-guru. Satu hal yang saya ingat saat ini adalah ucapan salah satu guru tersebut : "Dasar anak pelosok, anak kampung, ini bukan dihutan berlarian sesuka hati kalian, disini banyak kendaraan bukan seperti kampung kalian".

Saya hanya diam karena bukan saya yang melintasi jalan raya itu melainkan teman sekelas saya dan syukurnya dia tidak terlindas oleh bus tersebut. wajah-wajah marah itu masih terekam jelas di memori saya hingga saat ini, di dalam hati saya hanya bergumam. "Meski saya anak kampung, saya bukan anak bodoh tapinya, lihatlah suatu saat kampung saya akan jadi idola!" dan terbukti sekarang kampung itu menjadi favorite untuk mengais rezeki karena kandungan emasnya.

Oke fine, Saya anak kampung! berangkat dari situlah saya menjadi anak kampung yang bersekolah di ibukota jakarta. Saya berasal dari sebuah lembah yang diapit perbukitan menjulang, terisolir dari keramaian, dan tidak mengenal tontonan, belajar malam menggunakan lampu minyak tanah yang keesokan harinya hidung akan menghitam karena asap. Its Never Mind, saya anak kampung yang pertama ikut kelas akselerasi hanya mengenyam 5 tahun sekolah dasar. Lalu sekolah di ibukota syukurnya saya masih menyabet ranking kelas.

Sekarang, kampung terpencil itu menjelma menjadi penghasil emas yang diburu oleh banyak orang termasuk para cukong bermata sipit dari tiongkok, meski tidak bisa berbahasa indonesia dengan baik dan benar namun mereka tetap berhasil meraup dan membawa berkilogram emas dari kampung saya tercinta. 

Bagaimana bisa?!
Entahlah, saya pun kurang mengetahui cerita persisnya, karena jarang pulang kampung (sekolah dan kuliah diluar pulau sumatera), mendapatkan suamipun bukan orang asli daerah sehingga pulang kampung jarang-jarang sekali. Lantas bagaimana bisa si kulit putih itu menambang emas dikampung saya?.
I dont know...
Tetapi satu hal yang pasti, semuanya berawal dari oknum yang ingin memperkaya diri sendiri lalu mengelabui ninik mamak dan juga masyarakat untuk kemudian memberikan izin kepada mereka para cukong untuk menambang emas dikampungku nan hijau serta peran pemerintah daerahpun turut membantu. 

Dahulu masyarakat menambang emas hanya dengan mendulang pakai tampah kayu bulat sekarang puluhan excavator telah merambah masuk ke hutan-hutan yang dahulu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki serta berkuda untuk mengangkat barang, pola hidup dan sikap masyarakatpun mulai berubah perlahan.

Ibadah yang semakin jarang karena kesibukan melansir minyak, menjadi anak buah excavator, dan lain sebagainya, riba juga merajalela dengan hadirnya koperasi keliling yang  tak lain dan tak bukan adalah rentenir. Mesjid-mesjid hanya diperbagus namun jamaah hanya berkisar antara dua dan empat orang, anak-anak bukan lagi sibuk bermain namun sibuk balap-balapan dengan motor gede nan keren.

Setiap pulang kampung saya hanya melongo, jika dulu kami berlomba belajar naik sepeda sekarang ini anak-anak berlomba belajar mengendarai sepeda motor. "Oh kudetnya daku..." jika dahulu sore  hari berlarian main bola kasti dihalaman sekolah sembari mengalungi radio kecil di leher, sekarang mereka beraksi balap motor dengan hp smartphone, aksi anak-anak kecil bermain motor ini telah mengundang bahaya hingga ada yang menabrak orang hingga meninggal ada juga yang meninggal terjatuh karena balapan liar. Namun masalah bisa terelesaikan dengan uang,  komplit sudah karena orang tua mereka telah memiliki pundi-pundi emas jauh berbanding dengan saat saya kecil dahulu masayarakat hanya mengandalkan hasil pertanian, mendulang emas pun dilakukan beberapa orang saja karena sulitnya medan.

Lalu, banjir bandang ini datang melanda. seperti terbangun dari mimpi indah, saya harap pemuda dan pemuka masyarakat mulai bebenah dengan kembali mentadabburi ayat-ayatNya. Jangan pernah lupa, Allah lah pemilik segala-galanya, maka kembalilah pasrahkan pada Allah. Jangan terlalu tunduk pada nafsu dunia mari kita ramaikan mesjid seperti dahulunya. 



You Might Also Like

4 Comments

  1. Apa yang terjadi semoga bisa diambil hikmahnya, khususnya masyarakat setempat. Semoga banjir bandang menjadi suatu peringatan. Saya ngebayanginnya aja sedih. Kebayang desa yang tadinya indah menjadi seperti itu

    ReplyDelete
  2. Semoga dari bencana bisa mengambil hikmah dan pesan yang ingin disampaikan Rabb kita. Tentu sedih ya Mbak kalo pulang kampung, tapi kampung sudah banyak berubah. Hanya kenangan tertinggal.

    ReplyDelete
  3. Miris ya baca kisahnya, tapi mmg terkadang musibah disebabkan oleh tangan manusia itu sendiri. Semoga kita semua bs memetik hikmahnya

    ReplyDelete
  4. Kasian ya, Nggak kebayang yang perasaan yg tertimpa musibah, tapi mau gimana wong namanya musibah, pasti ada hikmah di balik kejadian ini, semoga yg mengalami musibah banjir bandang di berikan kekuatan :)

    ReplyDelete

Like us on Facebook